NABI MUHAMMAD SAW: ROLE MODEL KESUKSESAN
Oleh: Faisal Amri Al-Azhari, S.Th.I, M.Ag
(Pengurus CDAC dan Dosen AIK UMSU)
Peran manusia ada sejak awal dalam perjalanan kehidupannya di bumi. Kenyataan kehidupan sosial dan peran individu tidak bisa dilepaskan. Kepemimpinan dalam diri manusia adalah mengelola kehidupan itu didasarkan fitrahnya. Sedangkan dalam Islam sendiri fitrah manusia sebagai pemimpin disebut dengan Khalifah fi al-Ardh , wakil Tuhan untuk melestarikan kehidupan di bumi.
KH Ahmad Azhar Basyir (Ketua PP Muhammadiyah 1990-1995) dalam buku Akhlak Pemimpin Muhammadiyah pernah menjelaskan bahwa Islam adalah agama yang memerhatikan kenyataan manusia yang terdiri atas unsur jasmani dan rohani, makhluk individu dan makhluk sosial. Manusia hidup di dunia memerlukan hal-hal duniawi, dan hidup di akhirat memerlukan hal-hal ukhrawi dengan beramal duniawi. Dari pernyataan beliau inilah membedakan kita sebagai manusia dengan malaikat. Manusia perlu dibimbing dan ada idola yang harus diikuti untuk kesuksesan yang membawa maslahat dan kesejahteraan hidup.
Manusia tidak hanya mengadalkan fitrahnya, dalam Islam diajarkan petunjuk untuk membawa maslahat kehidupan yang dipimpinnya. Dan bahkan ada contoh teladan utama untuk kesuksesan dalam segala bidang melalui sosok Nabi Muhammad saw. Allah swt sudah rekomendasikan sebagai uswah yang sempurna dalam surah al-Ahzab/33 ayat 21 tentang ¬uswatun hasanah Nabi Muhammad saw.
Maulana Muhammad Ali dalam tafsirnya The Holy Quran, bahwa ayat -uswatun hasanah di atas merinci kesuksesan beliau dalam kehidupan dan kepemimpinannya sekaligus.
“Sekiranya beliau saw tak memimpin pasukan, niscaya beliau tak dapat menjadi contoh bagi seorang jenderal yang memimpin pasukan dalam pertempuran.
Sekiranya beliau tak menjalankan perang, niscaya beliau tak dapat menjadi contoh bagi seorang prajurit yang menyabung nyawanya untuk membela kebenaran, keadilan dan kemerdekaan.
Sekiranya beliau tak membuat undang-undang sebagai petunjuk bagi para pengikut beliau, niscaya beliau tak dapat dianggap sebagai contoh utama sebagai anggota legislatif;
Sekiranya beliau tak memutuskan perkara, niscaya beliau tak dapat menjadi pelita bagi hakim dan jaksa.
Sekiranya beliau tak kawin, niscaya tak dapat memperlihatkan bagaimana seorang suami harus bersikap manis dan kasih sayang kepada istri, dan bagaimana seorang ayah harus mencintai anak-anaknya.
Sekiranya beliau tak membalas kaum lalim akan kekejaman mereka terhadap orang-orang yang tak bersalah, dan sekiranya beliau tak dapat mengalahkan musuh yang aniaya, dan sekiranya beliau tak mengampuni mereka, dan sekiranya beliau tak melalaikan kesalahan mereka yang dekat kepada beliau, niscaya beliau tak dapat menjadi teladan yang baik dan contoh yang mulia, sebagaimana diuraikan dalam ayat ini.”
Memang semua itu adalah ciri khas hidup beliau, hingga beliau bukan saja telah memberi pedoman petunjuk yang praktis dalam segala pekerjaan sehari-hari, melainkan pula beliau telah memberi percontohan dengan hidup beliau sendiri bagaimana aturan-aturan itu harus dilaksanakan.
Nabi saw sudah mencontohkan segala bidang dalam hidup ini. Maka sempurnalah Nabi untuk di ikuti dalam segala hal. Bagaimana menjadi pribadi yang mulia, pedagang yang sukses, suami yang baik, ayah yang mendidik, pemimpin yang adil, jenderal perang yang heroik, hakim yang bijaksana, jaksa yang tulus, dan semuanya baik.
Kesuksesan Nabi Muhammad saw adalah karena faktor akhlak-kepemimpinan beliau yang agung. Inilah bagian soft-skill yang perlu dicontoh, kemampuan memimpin dengan akhlak, etika, dan moral tinggi yang dalam dunia profesi apapun sebagai syarat utama dalam keberhasilan dan pencapaian yang maksimal. Al-Quran juga menjelaskan tentang kesuksesan dan agungnya beliau saw; “dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung” . (QS al-Qalam/68: 4)
Kita lihat, masih penjelasan Muhammad Ali bahwa sangat menarik dan menggugah hati kita untuk benar-benar meneladani Rasul saw sebagai teladan abadi bahwa beliau mempunyai akhlak yang tinggi, karena beliau telah memperoleh julukan Al-Amin, yang artinya orang yang dapat dipercaya. Bangsa Arab berwatak sombong dan suka bermusuhan di antara kabilah dan keluarga sendiri, oleh karena itu Bangsa Arab tak mau tunduk kepada siapa saja yang bukan pemimpin kabilahnya atau rajanya, dan bukan pula panglima perang atau penyair yang ulung.
Demikian pula Bangsa Arab tak suka menjunjung seseorang dengan maksud tertentu dengan memuji setinggi langit kepada seseorang yang tak pernah bergaul dengan mereka, bahkan meskipun orang ini menempuh kehidupan yang hampir seperti pertapa. Oleh karena itu, jika Bangsa Arab memberi julukan Al-Amin kepada beliau, ini berarti mereka menyatakan penghargaan yang setinggi-tingginya atas akhlak beliau, seakan-akan beliau merupakan satu-satunya (sebagaimana ditunjukkan oleh awalan al dalam kata Al-Amin), yang dapat dipercaya dalam segala hal. Keluhuran akhlak beliau diakui kebenarannya oleh ‘Aisyah ra, yang tak ada orang lain dapat menandingi beliau dalam keakrabannya dengan Nabi saw. ‘Aisyah ra berkata: “Akhlak beliau ialah Quran”, artinya segala macam akhlak tinggi yang dilukiskan oleh Quran, benar-benar contoh singkat luhurnya akhlak Nabi.
Demikian contoh nyata rahasia kesuksesan Nabi Muhammad saw dalam menjalankan tugas kenabiannya untuk menjadi contoh meraih kebahagian, kesejahteran hidup yang hakiki, baik di dunia dan akhirat, baik jasmani maupun rohani, baik individu maupun sosial. Semua sudah terekam dalam jejak seorang tokoh teladan abadi.
