• Emailtemu@pjk-umsu.ac.id
  • AddressJl. Ampera Raya Gedung G Lt. 1 Medan - Kampus Utama UMSU
  • Open Hours9.00 - 16.00
  • Emailtemu@pjk-umsu.ac.id
  • AddressJl. Ampera Raya Gedung G Lt. 1 Medan - Kampus Utama UMSU
  • Open Hours9.00 - 16.00

Quiet Quitting: Fenomena Diam-Diam yang Menggerogoti Dunia KerjaVol 8 (Juli 2025)

Dalam beberapa tahun terakhir, dunia kerja dihadapkan pada fenomena baru yang diam-diam tapi berdampak besar, yakni quiet quitting. Istilah ini pertama kali viral di media sosial dan kini menjadi perbincangan serius di kalangan profesional, akademisi, hingga pengambil kebijakan ketenagakerjaan. Quiet quitting tidak berarti pekerja benar-benar berhenti bekerja, melainkan mereka hanya menjalankan tugas sebatas deskripsi pekerjaan formal—tanpa inisiatif tambahan, tanpa lembur, dan tanpa usaha lebih untuk terlibat secara emosional dalam pekerjaan.

Fenomena ini bukan tentang kemalasan, melainkan ekspresi kelelahan, ketidakpuasan, dan pencarian keseimbangan hidup. Quiet quitting adalah sinyal bahwa ada yang salah dalam sistem kerja kita. Artikel ini membahas faktor penyebab quiet quitting, dampaknya terhadap individu dan organisasi, serta solusi konkret untuk mengatasinya.

FAKTOR PENYEBAB QUIET QUITTING

Kelelahan dan Burnout
Burnout menjadi faktor utama di balik quiet quitting. Beban kerja yang tinggi, tekanan waktu yang terus-menerus, dan tuntutan performa tanpa jeda membuat banyak karyawan merasa kehabisan energi. Mereka akhirnya memilih “mundur pelan-pelan” sebagai bentuk perlindungan diri.

Kurangnya Apresiasi dan Pengakuan
Karyawan yang merasa kerja kerasnya tidak dihargai—baik secara finansial maupun emosional—cenderung kehilangan motivasi intrinsik. Tidak ada insentif untuk bekerja lebih jika tidak ada pengakuan atau penghargaan yang sepadan.

Minimnya Kesempatan Pengembangan Diri
Lingkungan kerja yang stagnan, tanpa peluang naik jabatan atau pelatihan pengembangan diri, menciptakan rasa jenuh dan frustrasi. Tanpa visi masa depan yang jelas, loyalitas dan semangat kerja memudar.

Budaya Kerja Toksik
Organisasi dengan budaya kerja toksik—seperti micromanagement, ketidakjelasan komunikasi, atau pimpinan yang otoriter—mendorong karyawan menarik diri dari keterlibatan aktif. Mereka bekerja sebatas “asal selesai” tanpa niat berkontribusi lebih.

Ketidakseimbangan Kehidupan dan Pekerjaan
Pandemi COVID-19 mendorong banyak orang mengevaluasi kembali prioritas hidupnya. Banyak pekerja mulai menuntut keseimbangan antara kerja dan kehidupan pribadi. Ketika pekerjaan mulai menggerus waktu dan kualitas hidup, quiet quitting menjadi jalan kompromi.

DAMPAK QUIET QUITTING

Data Statistik Terkini tentang Quiet Quitting

  1. Tingkat disengagement global sangat tinggi: Laporan Gallup (2022) menyebutkan hanya 15% tenaga kerja global yang benar-benar engaged. Di Indonesia, angka engagement hanya sekitar 24%.
  2. Kerugian ekonomi raksasa: Quiet quitting menyebabkan kerugian global hingga US$1,5 triliun per tahun. Di AS saja, kerugiannya mencapai US$450–500 miliar.
  3. Motivasi rendah: Survei Pew mencatat 47% karyawan AS bekerja hanya untuk “membayar tagihan”—bukan karena passion atau tujuan jangka panjang.
  4. Insentif berdampak besar: Sebanyak 79% karyawan menyatakan akan berhenti quiet quitting jika mendapatkan pengakuan dan penghargaan dari pimpinan.
  5. Kasus ghost workers: 9,5% pekerja teknologi di AS termasuk “ghost workers”, dengan angka tertinggi di kalangan pekerja remote (14%).
  6. Burnout di Indonesia: 60% karyawan perkotaan Indonesia menunjukkan gejala burnout yang signifikan.
  7. Studi lokal di Yogyakarta (Gen Z perhotelan): Turnover intention berkontribusi besar terhadap quiet quitting, terutama akibat burnout.

a. Dampak Terhadap Individu

  1. Kehilangan Rasa Bermakna: Karyawan yang tidak lagi merasa terhubung secara emosional dengan pekerjaan mereka cenderung kehilangan semangat dan makna dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Ini dapat menimbulkan rasa hampa dan kelesuan psikologis.
  2. Karier Mandek: Dengan tidak menunjukkan inisiatif dan semangat ekstra, karyawan berpotensi diabaikan dalam promosi dan pengembangan karier. Akibatnya, peluang untuk naik jabatan atau mendapatkan proyek strategis bisa tertutup.
  3. Stres Berkepanjangan: Meskipun terlihat seperti menghindari tekanan, quiet quitting justru dapat memunculkan kecemasan terselubung akibat konflik internal antara tanggung jawab profesional dan kebutuhan pribadi. Hal ini memicu eseha jangka panjang yang mengganggu esehatan mental.

b. Dampak Terhadap Organisasi

  1. Penurunan Produktivitas: Ketika banyak karyawan hanya bekerja minimal, efisiensi dan output organisasi menurun. Target tidak tercapai dan proses kerja menjadi lambat.
  2. Turunnya Inovasi dan Kolaborasi: Quiet quitting melemahkan semangat kolektif dan inisiatif kreatif di tempat kerja. Tim kehilangan dinamika ide dan kontribusi aktif, yang penting untuk inovasi dan perbaikan berkelanjutan.
  3. Peningkatan Turnover Terselubung: Meskipun tidak secara resmi resign, karyawan yang diam-diam tidak lagi terlibat bisa menjadi beban laten. Mereka kehilangan motivasi untuk berkembang, dan akhirnya benar-benar meninggalkan organisasi atau memberi dampak negatif pada kinerja tim.

SOLUSI MENGATASI QUIET QUITTING

1. Menciptakan Budaya Apresiatif
Organisasi perlu menanamkan budaya apresiasi yang konsisten dan tulus. Penghargaan atas hasil kerja tidak harus selalu dalam bentuk finansial. Pengakuan di hadapan tim, ucapan terima kasih, atau pemberian tanggung jawab yang lebih besar bisa meningkatkan rasa dihargai dan meningkatkan motivasi kerja.

2. Membangun Koneksi Emosional
Manajer harus terlibat lebih dalam secara emosional dengan anggota tim. Pertemuan rutin yang tidak hanya membahas pekerjaan, tapi juga mendengarkan aspirasi dan keluhan karyawan, membantu membangun rasa kepemilikan dan kedekatan dalam tim.

3. Menata Ulang Ekspektasi dan Beban Kerja
Manajemen perlu transparan dalam menyampaikan harapan dan memberikan beban kerja yang proporsional. Evaluasi berkala terhadap distribusi kerja dan komunikasi terbuka dapat mencegah ketidakpuasan dan kebingungan mengenai peran dan kontribusi.

4. Fleksibilitas dan Dukungan Keseimbangan Hidup
Menyediakan fleksibilitas dalam waktu dan tempat kerja dapat membantu karyawan mengelola keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Program cuti yang adil, kebijakan kerja hibrida, serta dukungan untuk kesehatan mental sangat penting di era modern.

5. Pelatihan dan Pengembangan Karier
Karyawan perlu merasa bahwa mereka sedang bergerak maju. Program pelatihan, mentoring, dan jalur karier yang jelas akan membantu menjaga semangat belajar dan rasa optimisme terhadap masa depan profesional mereka.

6. Kepemimpinan yang Memberdayakan
Pemimpin harus menjadi panutan dalam etika kerja, empati, dan komunikasi terbuka. Kepemimpinan yang memberdayakan memberi ruang bagi karyawan untuk berinisiatif, berinovasi, dan merasa aman menyampaikan pendapat.

Kesimpulan yang Diperkuat

Quiet quitting bukan sekadar tren kultural, tapi realitas yang menyebabkan kerugian produktivitas ratusan miliar dolar, burnout masif, dan tingkat engagement rendah di Indonesia maupun global. Data menunjukkan bahwa penghargaan, dukungan mental, dan jalur karier yang jelas adalah kunci efektif untuk memulihkan motivasi dan mencegah disengagement.

Manajemen harus didorong untuk mengubah gaya kepemimpinan, menciptakan komunikasi terbuka, dan memberi dukungan emosional serta pengakuan nyata—bukan sekadar menetapkan batas kerja.

Penutup

Quiet quitting adalah bentuk respons diam-diam terhadap ketimpangan, kelelahan, dan krisis makna dalam pekerjaan. Ia bukan semata-mata tentang pekerja yang malas atau kurang loyal, tetapi lebih pada sinyal bahwa sistem kerja kita perlu diperbaiki.

Organisasi yang ingin bertahan dan tumbuh di era pasca-pandemi harus mampu menciptakan lingkungan kerja yang lebih manusiawi, adil, dan bermakna. Quiet quitting dapat dicegah jika manajemen mau mendengar, memahami, dan menghargai pekerja sebagai manusia seutuhnya—bukan sekadar sumber daya produksi.