• Emailtemu@pjk-umsu.ac.id
  • AddressJl. Ampera Raya Gedung G Lt. 1 Medan - Kampus Utama UMSU
  • Open Hours9.00 - 16.00
  • Emailtemu@pjk-umsu.ac.id
  • AddressJl. Ampera Raya Gedung G Lt. 1 Medan - Kampus Utama UMSU
  • Open Hours9.00 - 16.00

Berpihak pada yang Lemah: Kepemimpinan Syahripal Putra di Sekolah Rakyat Terintegrasi

Di tengah kecenderungan sekolah berlomba merekrut siswa berprestasi dan “siap jadi juara”, Syahripal Putra, S.Pd., M.Hum justru memilih jalan yang jarang dilalui: memimpin sekolah bagi anak-anak dari desil 1 dan 2, kelompok yang paling rentan secara sosial dan ekonomi.
“Pendidikan adalah tentang memberi harapan bagi mereka yang paling membutuhkan, bukan hanya melayani mereka yang sudah beruntung,” ujarnya. Prinsip inilah yang sejak awal menuntun perjalanan karier alumni Pendidikan Bahasa Inggris UMSU tahun 2008 tersebut.

Perjalanan Syahripal di dunia pendidikan dimulai pada tahun 2008 sebagai guru Bahasa Inggris di SMKN 8 Medan. Di sekolah kejuruan ini, ia berhadapan langsung dengan realitas murid yang beragam—latar sosial ekonomi yang kompleks, motivasi belajar yang fluktuatif, serta tantangan karakter yang tidak selalu mudah.
“Di sana saya belajar bahwa mengajar bukan soal seberapa pintar guru, tetapi seberapa peduli ia pada murid,” refleksinya. Dua tahun pengalaman tersebut membentuk fondasi ketahanan mental dan empatinya sebagai pendidik.

Pada 2010, Syahripal diangkat sebagai PNS di SMAN 1 Limapuluh, kemudian melanjutkan pengabdian di SMAN 19 Medan (2018–Agustus 2023). Pengalaman panjang di ruang kelas membuatnya sampai pada satu kesadaran penting: perubahan pendidikan tidak cukup hanya bertumpu pada guru, tetapi memerlukan kepemimpinan sekolah yang berani berpikir berbeda dan berpihak pada murid.

Kesadaran itulah yang membawanya mengikuti seleksi Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT). Pada 16 Agustus 2025, Syahripal dinyatakan lulus. Baginya, ini bukan puncak karier, melainkan awal pengabdian baru.

Kini, ia memimpin Sekolah Rakyat Terintegrasi 30 Medan, sebuah sekolah berasrama yang menampung peserta didik dari keluarga desil 1 dan 2. Pilihan ini jauh dari kata “aman” atau “prestisius” di mata banyak orang. Namun bagi Syahripal, inilah wujud keberpihakan yang paling nyata.
“Menjadi kepala sekolah bukan tentang jabatan, tetapi tentang keberanian mengambil tanggung jawab yang lebih besar untuk menghadirkan perubahan—perlahan, konsisten, dan bersama,” katanya.

Sebagai kepala sekolah, tanggung jawabnya mencakup pembelajaran dan pengasuhan, pengelolaan ekosistem sekolah (guru, wali asuh, wali asrama, dan tenaga kependidikan), hingga membangun komunikasi dengan para pemangku kepentingan.
“Kepala sekolah di Sekolah Rakyat adalah pemimpin pendidikan sekaligus pengasuh nilai,” tegasnya.

Tantangan terbesar datang dari pola pikir. Banyak murid hadir dengan trauma sosial, kepercayaan diri rendah, serta pengalaman hidup yang tidak selalu ramah pada pendidikan. Mereka datang bukan dengan privilese, melainkan dengan luka dan keraguan. Di sisi lain, perubahan juga menuntut adaptasi dari orang dewasa di sekitar sekolah, di tengah keterbatasan sumber daya dan kebiasaan kerja lama.
“Menjaga semangat dan konsistensi ketika hasil tidak bisa instan adalah tantangan emosional sekaligus profesional,” ungkapnya.

Namun Syahripal memilih bertahan. Ia percaya anak-anak ini berhak memperoleh pendidikan yang sama berkualitasnya—bahkan mungkin lebih—karena merekalah yang paling membutuhkan.

Baginya, pencapaian terbesar bukanlah piagam atau angka statistik.
“Momen paling berkesan adalah ketika murid yang awalnya pendiam mulai berani berbicara, anak yang dulu abai mulai peduli lingkungan, dan guru serta wali asuh berkata, ‘Kita satu tim, Pak.’ Saat sekolah menjadi ruang aman dan bermakna, di situlah saya merasa pilihan ini benar.”

UMSU memiliki peran penting dalam membentuk cara berpikir dan kepemimpinannya. Pembiasaan berpikir kritis, mata kuliah humaniora, serta teladan dosen yang menanamkan nilai integritas dan kepekaan sosial menjadi fondasi kuat dalam perjalanannya.
“UMSU tidak hanya membekali saya dengan ilmu, tetapi juga cara berpikir sebagai pendidik yang beretika dan berempati,” tuturnya.

Kepada para fresh graduate, Syahripal berpesan agar tidak hanya menyiapkan CV, tetapi juga mental dan karakter.
“Dunia kerja berbeda dengan kampus. Jangan gengsi jadi pemula. IPK penting, tetapi kemampuan bekerja dengan orang lain jauh lebih menentukan.”

Pesannya untuk sesama alumni UMSU pun sederhana namun mendalam:
“Jangan terburu-buru membandingkan diri dengan orang lain. Setiap orang punya waktu tumbuh yang berbeda. Bangun karier dengan jujur, sabar, dan konsisten. UMSU tidak hanya meluluskan sarjana, tetapi manusia yang diharapkan memberi manfaat.”

Bagi Syahripal Putra, sukses bukan soal posisi atau gelar.
“Sukses adalah tetap memegang nilai meski punya kuasa, tetap rendah hati meski dipercaya, dan mampu memberi dampak positif bagi orang lain.”

Ingin mengikuti kisah dan pemikirannya lebih lanjut? Kunjungi Instagram @syahripalputra85