• Emailtemu@pjk-umsu.ac.id
  • AddressJl. Ampera Raya Gedung G Lt. 1 Medan - Kampus Utama UMSU
  • Open Hours9.00 - 16.00
  • Emailtemu@pjk-umsu.ac.id
  • AddressJl. Ampera Raya Gedung G Lt. 1 Medan - Kampus Utama UMSU
  • Open Hours9.00 - 16.00

Zona Nyaman Itu Nyaman, Tapi Faroch Alfarizi Pilih Berkembang di Yogyakarta

 Medan – Zona nyaman itu memang nyaman. Di Medan, Ahmad Faroch Alfarizi pemilik akun instagram @farochalfarizi, bisa saja langsung bekerja setelah lulus dari Pendidikan Agama Islam UMSU tahun 2023. Dekat dengan keluarga, lingkungan yang sudah dikenal, dan kehidupan yang stabil. Tapi dia memilih jalan yang berbeda meninggalkan semua kenyamanan itu dan merantau ke Yogyakarta untuk melanjutkan magister. 

Keputusan yang tidak mudah, tapi hasilnya? Luar biasa. Dalam waktu singkat, Faroch tidak hanya menyelesaikan magister dengan predikat wisudawan terbaik (IPK 3,94), tapi juga langsung menjadi dosen Al-Islam dan Kemuhammadiyahan di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta di usia yang masih sangat muda. Dia juga dipercaya sebagai Koordinator Tim Asistensi di Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Semua itu, karena dia berani keluar dari zona nyaman. 

Sebenarnya, cita-cita menjadi dosen sudah Faroch (sapaan akrabnya) tanam sejak semester awal kuliah di UMSU. Tapi dia bukan tipe orang yang puas dengan satu jalan saja. “Saya adalah tipikal yang ingin selalu memperluas perspektif dan sudut pandang,” ungkapnya. Di sinilah zona nyaman menjadi dilema. Dia bisa saja langsung mengajar di Medan setelah lulus, tinggal di rumah orang tua, menjalani kehidupan yang aman dan tenang. Tapi ada sesuatu yang mengganjal, keinginan untuk melihat dunia lebih luas, untuk belajar dari tempat lain, untuk keluar dari lingkup yang sudah dia kenal. 

“Saya terus percaya bahwa ketidakpuasan terkadang akan melahirkan kepuasan itu sendiri. Tergantung pada ikhtiar dan sudut pandang kita sendiri yang menjalaninya,” katanya. Keinginan untuk melihat dunia lebih luas itulah yang membuatnya memutuskan melanjutkan magister ke Yogyakarta, kota yang dia sebut sebagai “tempat yang penuh gundukan pengetahuan.” Keputusan itu ternyata tidak keliru. September 2023 menjadi waktu transformasi. Dengan restu dan doa dari orang tua, dia meninggalkan zona nyaman di Medan menuju ketidaknyamanan yang justru membuatnya berkembang. 

Perjalanan Faroch di UMSU bukan sekadar mengejar IPK tinggi. Selama hampir empat tahun, dia aktif berorganisasi, terutama sebagai Ketua Umum PK IMM FAI UMSU periode 2022-2023. “Itu adalah masa di mana banyak sekali pelajaran yang tidak termuat di SKS perkuliahan. Komunikasi, bernegosiasi, dan banyak hal lain yang mengantarkan saya pada situasi saat ini,” kenangnya. 

Dukungan dari para dosen seperti Prof. Agussani, Prof. Akrim, Dr. Muhammad Qorib, Dr. Robie Fanreza, dan lainnya juga membentuk karakternya untuk menghadapi tantangan yang lebih besar di masa depan. 

Sesampainya di Yogyakarta, Faroch langsung merasakan apa artinya keluar dari zona nyaman. Kultur berbeda, lingkungan baru, tuntutan akademik yang lebih tinggi. Semuanya harus dia hadapi sendirian, jauh dari keluarga. “Tantangan terbesar mungkin pada saat menempuh jenjang magister. Menghadapi kultur dan kebiasaan baru di Yogyakarta perlu penyesuaian yang cukup ekstra,” akunya. Tapi alih-alih mengeluh atau menyerah, Faroch memilih untuk melihat semua ketidaknyamanan itu sebagai proses pembelajaran. 

Dia langsung mendaftar dan lulus sebagai mahasiswa Magister Pendidikan Agama Islam di Universitas Ahmad Dahlan. Tidak lama kemudian, dia diajak untuk bergabung sebagai Tim Asistensi di MPKSDI Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sebuah kesempatan berharga untuk belajar langsung dari para pemimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia. 

Kultur akademik yang berbeda, lingkungan baru, tuntutan organisasi yang tinggi. Semuanya dia hadapi bersamaan. Tapi justru di situlah dia belajar hal-hal yang tidak pernah dia dapatkan di zona nyaman Medan. Dia bertemu dengan kader-kader hebat, belajar dari para ahli, dan memperluas perspektif yang selama ini dia cari. Kerja keras dan konsistensinya membuahkan hasil manis. Tepat satu setengah tahun kemudian, Faroch menyelesaikan magister dengan IPK 3,94 dan meraih predikat wisudawan terbaik. “Momen itu membuktikan terutama kepada orang tua bahwa saya pergi bukan untuk sekadar melaksanakan studi, tapi juga menyelesaikan amanah dengan baik,” katanya. 

Pencapaian ini membuka jalan baru. Dosen pembimbingnya merekomendasikan untuk langsung mendaftar sebagai dosen di Universitas Ahmad Dahlan. Dan akhirnya, di usia yang masih sangat muda, Faroch resmi menjadi dosen Al-Islam dan Kemuhammadiyahan sekaligus menjabat sebagai Koordinator Tim Asistensi di MPKSDI PPM. “Saya belajar banyak hal dari para kader yang kini menjabat sebagai pimpinan,” ungkapnya.

Menurut Faroch, ada tiga skill utama yang sangat penting: komunikasi, negosiasi, dan literasi. Untuk mengembangkannya, dia menggunakan analogi teknik penelitian kualitatif “Wawancara, perlu banyak bertanya. Observasi, mengamati dan menganalisis. Dokumentasi, aksi serta bukti nyata di lapangan.” Sebagai dosen muda, dia juga menekankan pentingnya membaca dan menulis. “Membaca itu penting, entah lewat buku, artikel jurnal, atau media massa. Dan jangan lupa menulis, bukan hanya saat skripsi, tapi lebih luas daripada itu. Menulis adalah bukti bahwa mahasiswa tidak hanya punya karya kata, tetapi juga karya nyata.”

Bagi fresh graduate yang baru lulus, Faroch punya filosofi yang cukup mendalam. Menurutnya, pencapaian bukan datang dari satu faktor saja, tapi dari kombinasi dua hal penting. “Sebuah pencapaian akan menetas dari perkawinan antara amalan dan keyakinan,” ujarnya.

Apa maksudnya? Amalan adalah tindakan nyata, bisa studi lanjut, bekerja, atau melakukan hal lain yang bernilai. Sedangkan keyakinan adalah fondasi mental, kepercayaan diri bahwa kita mampu, dan kepercayaan kepada Allah bahwa usaha kita akan berbuah hasil. Keduanya harus berjalan beriringan.

Sementara untuk yang sudah mulai membangun karier, Faroch mengingatkan dua hal yang sering terlupakan yaitu konsistensi dan komitmen. Banyak orang memulai dengan semangat tinggi, tapi tidak bertahan lama. “Dua hal ini perlu ditanam dan dipupuk dengan baik dalam diri. Sehingga pada akhirnya, apa yang sudah dibangun itu bukan sekadar eksistensi, tapi ada esensi yang membentuk karier itu sampai di mana akan berlabuh.”

Lalu bagaimana Faroch mendefinisikan kesuksesan itu sendiri? Jawabannya cukup unik. “Sukses itu sekumpulan proses, progres, dan protes yang bermuara pada hasil,” katanya. Proses adalah perjalanan yang harus dilewati, progres adalah perkembangan yang terus dibuat, dan protes adalah keberanian untuk tidak puas dan terus menantang diri sendiri. “Tak ada tolak ukur pasti—entah kecil atau besar, itu tergantung sudut pandang saja.”


oleh : Fizna Adn