• Emailtemu@pjk-umsu.ac.id
  • AddressJl. Ampera Raya Gedung G Lt. 1 Medan - Kampus Utama UMSU
  • Open Hours9.00 - 16.00
  • Emailtemu@pjk-umsu.ac.id
  • AddressJl. Ampera Raya Gedung G Lt. 1 Medan - Kampus Utama UMSU
  • Open Hours9.00 - 16.00

NABI MUHAMMAD SAW: ROLE MODEL KESUKSESAN—KEMANDIRIAN (Bag. 2)

Oleh: Faisal Amri Al-Azhari, S.Th.I, M.Ag
(Pengurus CDAC UMSU, Dosen AIK)

*
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ

“Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah”. [Q.S. al-Ahzab/33: 21]

*

“Kemandirian: Tidak Ada Pekerjaan Rendah bagi Beliau saw”

Maulana Muhammad Ali dalam bukunya Muhammad The Prophet (Terj. Muhammad Sang Revolusioner ) merangkum dengan detail akan kemandirian Nabi saw yang ketulusan menjadi kunci utama akhlak Nabi. Dan beliau pun mencintai kebajikan untuk kemaslahatan. Akhlak mulia yang membentuk kepribadiannya bukanlah hal yang dibuat-buat, tetapi telah tertanam sedemikian rupa dalam pembawaan beliau. Segala sesuatu dilakukan dengan tangannya sendiri. Bahkan bila ingin bersedekah kepada peminta-minta, tangan beliaulah yang langsung memberikannya.

Beliau selalu membantu istri-istrinya dalam menjalankan tugas rumah tangganya; memeras susu kambing; menjahit baju, bahkan memperbaiki sepatu dengan tangannya. Tidak jarang beliau membersihkan debu rumah, serta menambatkan dan mengurus untanya sendiri. Tak ada pekerjaan yang hina di mata beliau. Tatkala membangun masjid, beliau tampil bagaikan tukang bangunan. Ketika menggali parit untuk melindungi kota Madinah dari ancaman serangan musuh, beliau bekerja keras di antara barisan dan deretan orang-orang yang sama-sama sibuk bekerja. Beliau juga tidak saja suka belanja ke pasar untuk keperluan rumah tangganya sendiri, tetapi sering kali untuk keper-luan tetangga maupun para sahabat beliau.

Singkatnya, beliau tak pernah mengabaikan suatu pekerjaan. Begitu tulus, meskipun kedudukan dan pangkat beliau adalah seorang Nabi sekaligus kepala pemerintahan. Beliau memberikan teladan melalui amal perbuatan pribadi, baik pekerjaan itu berat maupun ringan, tanpa memedulikan kedudukannya. Itulah ketulusan dan perlakuan beliau terhadap orang lain, baik orang itu terhormat ataupun sederhana. Beliau adalah seorang pekerja jalanan, tukang potong kayu, dan penimba air, sebagaimana orang lain yang berada dalam ikatan Ukhuwah Islamiah, dan sebagai saudagar maupun pejabat tinggi.

Oleh karena itu Muhammad Ali menganjurkan, kita harus belajar dari kehidupan masa muda Nabi saw., bahkan sejak kanak-kanaknya, yang telah memiliki akhlak mulia dan teladan budi pekerti luhur. Beliau tak pernah berperilaku kotor layaknya kebanyakan anak seusianya pada masanya. Abu Thalib menceritakan tentang beliau kepada ‘Abbas agar dapat diperhatikan, “aku tak pernah melihatnya berdusta, bermain yang tak ada gunanya, membusungkan dada, atau bergaul bersama pemuda berandalan”.

Lebih lanjut kita membaca penjelasan KH Moenawar Khalil dalam bukunya Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad saw bahwa sejak mulai kecil, beliau tidak pernah memiliki harta benda dan perhiasan dunia sebagaimana kebiasaan anak-anak bangsawan Quraisy lainnya. Ketika beliau berusia kurang lebih empat tahun, yaitu waktu berada di bawah asuhan Halimah (ibu Susu) di dusunnya, dengan kehendak sendiri telah ikut menggembala kambing milik ibu susuannya, Halimah, bersama-sama dengan anak Halimah sendiri. Sepulang beliau dari dusun Banu Sa’ad di kota Mekah, beliau pun menggembala kambing lagi. Adapun kambing-kambing yang digembalanya, bukannya kambing sendiri, bukan kambing dari peninggalan ayahnya dan bukan pula kambing milik ibu dan kakeknya, melainkan milik penduduk Mekah.

Selanjutnya, setelah beliau ditinggal wafat oleh ibunya. Meskipun waktu itu ada dalam pemeliharaan kakeknya, sementara kakeknya itu seorang ketua dan yang memegang kekuasaan di Mekah, beliau tidak merasa malu untuk bekerja menggembala kambing atau lebih tegas buruh menggembala kambing milik orang Mekah dengan menerima upah yang tidak seberapa banyaknya. Riwayat pekerjaan beliau sebagai penggembala kambing milik orang Mekah itu, oleh beliau sendiri pernah dinyatakan dengan sabdanya kepada sebagian sahabat ketika beliau telah menjadi nabi dan rasul Allah.

Pesannya jelas, memanfaatkan usia muda untuk produktif, tidak mengenal mager, rebahan, dan malas-malasan. Inilah Role Model sang teladan Abadi yang ditujukan untuk anak muda hari ini dan kapan pun.

Melalui keterangan ini, dalam konteks kemandirian dan etos kerja yang dicontohkan Nabi Muhammad saw tidak mengenal rasa mengeluh. Meskipun beliau terlahir dengan kodisi yatim dan kesederhanaan beliau mampu berdaptasi bahkan mengikuti profesi dengan cara berdagang sebagai cara kondisi untuk mengungguli ekonomi waktu itu sebagai profesi yang paling menjanjikan kesuksesan. Hal ini sesuai dengan Sirah Nabawiyah sebagaimana dalam buku Rahiq al-Makhtum karya Safiurrahman al-Mubarakfuri dijelaskan bahwa saat itu kondisi ekonomi mengikuti kondisi sosial, yang bisa dilihat dari jalan kehidupan bangsa Arab. Perdagangan merupakan sarana yang paling dominan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa kepribadiaan Nabi saw mengajarkan kepada siapa saja yang ingin sukses tidak bisa didapatkan dalam waktu singkat dan tanpa proses. Beliau mencontohkan hidup sukses dimulai dengan kemandirian dengan mengerjakan semua hal dengan sungguh-sungguh. Kesungguhan yang dilakukan sejak muda-belia. Keteladanan (uswah) inilah yang mengantarkan bagaimana membentuk jiwa disiplin, kerja keras—hard skill, hingga menjadi soft skill.

Tidak ada kesuksesan didapat dengan kedipan mata, apalagi banyak berharap bantuan orang lain dan prilaku mengandalkan Ordal (Orang Dalam) dalam dunia kerja. Agama Islam dengan tegas mengajarkan meraih kesuksesan dengan cara yang paling terhormat sebagaimana yang dicontohkan Nabi Muhammad saw di atas dan pesan abadi dalam Q.S. Ar-Ra’d [13] ayat 11:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri” . []