11TH UMSU JOB FAIR ERA AI MEMBUTUHKAN DEEP WORKERS BUKAN SHALLOW WORKERS
Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) menyelenggarakan Job Fair yang ke-11 pada 17 Juli 2026 di Auditorium UMSU. Acara ini bukan sekadar pertemuan antara pencari kerja dengan perusahaan, tetapi juga menjadi platform untuk menyampaikan pesan penting di era Artificial Intelligence (AI) bahwa industri membutuhkan deep workers, bukan shallow workers.
Wakil Rektor III UMSU, Assoc Prof. Dr. Rudianto, S.Sos., M.Si., menyampaikan visi yang jelas tentang tantangan masa depan. “Shallow work adalah pekerjaan yang biasa, rutin, dan bisa dikerjakan oleh banyak orang. Pekerjaan seperti ini mudah digantikan oleh AI dan teknologi,” jelasnya dalam pidato pembukaan. Sebaliknya, deep work adalah skill yang dikuasai secara mendalam, sungguh-sungguh, dan tidak mudah digantikan oleh teknologi apapun, termasuk AI.
Meskipun pesan tentang deep work terkesan menakutkan bagi talent muda, UMSU Job Fair ke-11 menunjukkan bahwa peluang tetap terbuka lebar. Sukma Lesmana, Ph.D., Ketua CDAC UMSU, melaporkan bahwa ada 30 perusahaan yang hadir secara offline. Namun yang lebih impressive adalah kehadiran lebih dari 430 lowongan kerja dari perusahaan nasional dan multinasional melalui platform online yang bekerjasama dengan Prosple dan JobStreet.
“Kepada para pelamar, jangan hanya melamar di perusahaan yang hadir secara offline. Ada sekitar 430-an lowongan kerja perusahaan nasional dan multinasional yang bisa Anda lamar. Silakan siapkan soft file dan bertarung di lowongan kerja online,” ujar Sukma, memberikan harapan yang konkret kepada para peserta.
Salah satu inovasi menarik dari Job Fair tahun ini adalah kehadiran magang berbayar untuk lulusan. Selama ini magang identik dengan mahasiswa yang tidak menerima gaji. Kini, fresh graduate memiliki opsi untuk mencoba magang berbayar sebelum memutuskan menjadi karyawan tetap. “Ini adalah kesempatan bagi lulusan yang mungkin masih canggung untuk menjadi karyawan tetap. Mereka bisa coba terlebih dahulu melalui program magang berbayar ini,” tambah Sukma.
Selain recruitment, Job Fair ke-11 juga menampilkan Career Talk yang mengangkat topik peluang pekerja migran. Kombes Pol. Budi Novianto, S.H., Kepala BP3MI Sumatera Utara, hadir sebagai narasumber untuk membahas peluang dan tantangan bekerja di luar negeri. Ini membuka wawasan bahwa peluang kerja tidak hanya terbatas di dalam negeri.
Kehadiran Plt. Kadis Ketenagakerjaan Kota Medan, Bapak Ramadan, menunjukkan komitmen model pentahelix kolaborasi antara pemerintah, industri, universitas, masyarakat, dan sektor lainnya. “Ini adalah bukti bahwa perguruan tinggi, pemerintah, dan industri harus bersinergi untuk memastikan lulusan terserap dengan baik di dunia kerja,” ujar Wakil Rektor Rudianto.
Kembali ke pesan utama Wakil Rektor, konsep deep work menjadi kunci di era ketika pekerjaan rutin semakin mudah diotomasi. Seorang akuntan kini bisa digantikan oleh software accounting. Penjaga gerbang tol bisa digantikan teknologi. Pekerjaan mengantar surat bisa diotomasi. Namun deep work skill yang dikuasai secara mendalam, tetap sulit digantikan.
“Skilled workers dengan deep work adalah mereka yang akan dibutuhkan oleh industri. Bahkan ketika AI digunakan oleh perusahaan, mereka akan lebih membutuhkan orang-orang dengan skills yang deep dibandingkan dengan shallow,” tegas Rudianto.
Pesannya jelas kepada para talent muda yang hadir di Job Fair untuk tingkatkan skill secara mendalam, kuasai bahasa asing, bangun networking yang kuat, dan jangan hanya bekerja di permukaan. Dengan pendekatan deep work, masa depan pekerjaan yang layak dan sejahtera akan terbuka lebih lebar.
UMSU Job Fair ke-11 bukan hanya tentang mencari kerja, tetapi juga tentang memahami apa yang benar-benar dibutuhkan industri di masa depan. Dengan 430 lowongan kerja online, magang berbayar, Career Talk, dan CV consultation, kesempatan nyata untuk berkembang ada di sini. Yang dibutuhkan hanya keputusan untuk menjadi deep worker, bukan shallow worker.
Oleh : Fizna And
