NABI MUHAMMAD SAW: ROLE MODEL KESUKSESAN—MULHIM (Bag. 3)
Oleh: Faisal Amri Al-Azhari, S.Th.I, M.Ag
(Pengurus CDAC, Dosen AIK UMSU)
“Setiap kesuksesan—yang kita capai—adalah karena berkah dari mengikuti Nabi saw. Sebesar apa kadar Anda mengikuti Nabi saw dan beriman kepadanya, maka sebesar itu pula inspirasi yang Anda peroleh—dari Allah swt—melalui perantara beliau. Sebesar itu pula hidayah dan berkah yang Anda peroleh” (Aidh Al-Qarni dalam Mulhim al-‘Alam).
Tausiyah Karier kali ini adalah pembacaan dari meneladani Nabi saw sebagai “Sang Yatim” yang menjadi “Mulhim—Inspirator Dunia” dengan merekam kehidupan manusia dari surah ad-Duha. Tulisan Role Model kesuksesan Nabi Muhammad yang menjadi “Mulhim” ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya bagian episode kehidupan “Kemandirian Nabi saw”.
Aidh Al-Qarni, menulis dalam bukunya Mulhim al-‘Alam (Sang Inspirator Dunia) diterangkan bahwa Nabi saw tumbuh dalam kondisi yatim agar tegar menghadapi sulitnya hidup, serta berusaha mencari kebutuhan hariannya. Beliau tidak memiliki waktu untuk bermain-main dan bersenang-senang, seperti anak-anak kecil pada umumnya. Waktunya diisi dengan perjuangan dan pengorbanan, agar bersiap diri dalam memikul tugas Risalah serta Kenabian.
Masih penjelasan Al-Qarni, bahwa Nabi saw tumbuh dalam kondisi yatim agar jiwa, semangat, dan kesabarannya terlatih. Sebab, Risalah (dakwah Islam) adalah amanah yang agung serta tanggung jawab yang berat, karena dihadapkan dengan para pembangkang, pembenci, penolak, penjahat, dan penentang. Dengan demikian, Nabi harus tampil lebih tegar, lebih tangguh, dan lebih pemberani dibandingkan dengan orang lain. Itulah “pelatihan” dari Allah swt. Pelatihan tersebut, hari ini dalam dunia kerja bisa disebut dengan “softskill”, yang sangat menentukan kualitas sekaligus modal utama dalam etos kerja, menghadapi segala persoalan, dan manajemen konflik.
Dalam sejarah Islam, jika membaca surah ad-Duha [93] ayat 6: “Alam yajidka yatîman fa âwâ”—Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Jelas dari ayat ini, Nabi Muhammad tidak memiliki hak istimewa (privilege) dalam hal kemudahan materi atau status sosial sejak lahir, melainkan justru tumbuh menghadapi ujian hidup yang sangat berat sebagai seorang yatim piatu di bawah pengasuhan Kakeknya, lalu Pamannya.
Ayat itu, menurut T.M. Hasbi ash-Shiddieqy dalam Tafsir An-Nur, lalu Allah menghadirkan orang yang melindungi Nabi saw. Sedangkan menurut Muhammad Asad (Leopold Weiss) dalam The Message of The Quran, Allah menjaga Nabi saw yang tidak berayah, memperhatikan pendidikan beliau dan segala keperluan. Hingga Nabi saw jauh dari segala perilaku jahiliyah yang kotor sehingga mencapai derajat keesempurnaan manusia. Ayat ini mengajarkan bahwa jangan sampai anak dibiarkan tidak terperhatikan yang sangat rentan dari terpengaruh akhlak yang buruk apalagi anak yatim. Ayat ini menekankan bahwa “setiap manusia adalah seorang yatim” dalam pengertian tertentu, karena setiap manusia “diciptakan dalam ketersendirian” (Q.S. al-An’am [6]: 94), dan masing-masing dari mereka akan datang ke hadapan-Nya pada Hari Kebangkitan dengan sendiri-sendiri (Q.S. Maryam [19]: 95).
Abdullah Yusuf Ali dalam The Holy Quran, “Bukankah Dia mendapatimu…”, frasa ayat ini sebagai pelajaran bahwa ukurlah masa depan dengan masa lalu. Jalan kehidupan Rasul saw bisa sebagai ilustrasi yang secara kias dapat diterapkan pada hidup kita.
Membaca surah ad-Duha ini maka hakikatnya adalah membaca jalan hidup kesuksesan Nabi Muhammad saw. Bahkan dalam surah ini, adalah pembacaan “surah kehidupan manusia”, M. Asad menyebutnya sebagai periode kehidupan manusia yang pasti akan dialami, khususnya mengalami penderitaan. Dan Yusuf Ali menyebut surah ini sebagai gambaran perubahan kehidupan manusia, ajaran tentang harapan dan hiburan sebagai rahmat Allah sejak dahulu diberikan kepada manusia, dan kepadanya diminta untuk menempuh jalan yang benar.
Weiss (Asad) menerjemahkan kata ad-Duha dengan “saat-saat pagi yang cerah”, yang menggambarkan simbol bagi periode kebahagian dalam kehidupan manusia yang hanya berlangsung sebentar dan dan baru akan muncul lagi dalam waktu yang lama, sebagaimana dibedakan dengan periode “malam ketika menjadi senyap dan gelap” yang berlangsung jauh lebih lama, yakni periode panjang kesengsaraan atau penderitaan yang lazimnya membayangi keberadaan manusia di dunia ini (Q.S. al-Balad [90]: 4).
Sangat bagus untuk direnungkan, apa yang dijelaskan Yusuf Ali bahwa “saat sinar pagi muncul” (ad-Duha) sebagai bentuk tumbuhnya kehidupan rohani jiwa manusia. Hendaknya malam yang hening dan sepi berlalu jangan dianggap hilang begitu saja—sebagai masa sulit perjuangan manusia—bahkan itu bentuk sebagai persiapan, karena pada dasarnya manusia tidak sendirian, juga tidak ditinggalkan Allah. Inilah pembacaan untuk kehidupan setiap manusia. Tidak ada alasan manusia hidup dengan keluhan dan kegagalan karena alasan tidak ada privilege. Hakikatnya manusia adalah hidup berjuang. Sebagaimana contoh teladan nyata perjuangan kehidupan Nabi Muhammad saw sebagai Pemimpin-Inspirator dunia.
Gustave Le Bone yang dikutip oleh TA Latief Rousydiy dalam buku Rasul Terbesar Muhammad saw menyebutkan bahwa dalam satu abad atau tiga generasi tidak ada bangsa-bangsa yang dapat mengadakan perubahan yang berarti. Bangsa Prancis sendiri memerlukan waktu 30 generasi atau 1000 tahun baru dapat mengadakan satu masyarakat yang bercorak Prancis. Ini terjadi pada seluruh bangsa dari umat, tidak ada terkecuali dalam hal ini, kecuali umat Islam. Karena Muhammad ar-Rasul sudah dapat membangun masyarakat baru dalam tempo satu turunan (23 tahun), yang tidak dapat ditiru atau diperbuat oleh bangsa lain.
Michael H. Hart seorang penulis Yahudi sekalipun mengakui Nabi Muhammad sebagai orang nomor satu dalam sejarah hidup manusia yang pernah ada dari seratus tokoh orang yang beliau susun dalam bukunya 100 A Rangking of The Most Influential Persons in History. Pengakuannya bahwa Nabi Muhammad satu-satunya orang dalam sejarah yang sangat berhasil, baik dalam hal keagamaan maupun sekuler (urusan dunia). Berhasil mengambangkan Agama dan serta menjadi pemimpin politik yang amat efektif. Yang paling diakui Hart adalah bahwa nabi Muhammad tidak terlahir dari lingkungan pusat peradaban, budaya, politik, dan ilmu seperti maklumnya tokoh-tokoh besar dunia. Tapi, justru beliau lahir dari wilayah paling terbelakang di dunia saat itu.
Al-Qarni menegaskan, para inspirator dunia—selain Nabi Muhammad saw—dari kalangan pemimpin, cendekiawan, penakluk, pembaru, penemu, pencipta, penjelajah, dan lainnya memiliki inspirasi tertentu dalam bidang tertentu. Inspirasi yang sifatnya terbatas, sementara, dan duniawi. Adapun inspirasi Nabi adalah dari Allah yang mencakup segala lini kehidupan dan segala lingkup keduniaan. Inspirasi yang sesuai dengan semua manusia, apa pun spesialisasi mereka, mauhibah (bakat/karunia) mereka, dan aktivitas mereka. Hal itu sesuai dengan firman Allah: “dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam” (Q.S. al-Anbiyâ` [21]: 107).
Setiap inspirator dunia memiliki plus dan minus. Ada sisi yang layak yang diterima dan ada sisi yang layak ditolak. Keberhasilannya tidak lepas dari kegagalan, keunikannya tidak lepas dari komentar, dan keistimewaannya tidak lepas dari kekurangan. Sebagai pengecualian adalah Nabi saw yang serba sempurna, serba suci, dan serba baik. Sebab, beliau adalah maksum yang senantiasa dijaga oleh Tuhannya. Demikian Al-Qarni menyimpulkan.
