ISLAM DAN KESUKSESAN HIDUP
Oleh: Faisal Amri Al Azhari, S.Th.I., M.Ag (Kepala Urusan Bimbingan Karir CDAC UMSU, Dosen AIK UMSU)
Islam adalah Rahmatan lil-‘Alamin . Semua sendi kehidupan tidak ada yang luput dalam syariat Agama Islam. Sehingga kehidupan manusia penuh dengan nilai-nilai yang membawa tujuan maslahat . Tujuan hidup manusia agar mendapatkan “surga dunia” adalah hak semua orang. Islam juga mengajarkan meminta kebaikan dunia, kesuksesan hidup di dunia, lalu bersanding agar tujuan Akhirat juga sukses.
Sebagaimana pandangan di atas, Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah 3 tentang aturan “Etika Berbisnis” menjelaskan bahwa nilai manusia tidak semata-mata terletak pada ukuran banyaknya harta kekayaan, tetapi diletakkan pada pandangannya terhadap kekayaan, etos kerja, dan cara memperoleh harta kekayaan serta pentasarufannya. Ajaran Islam bersifat menyeluruh, meliputi berbagai aspek, baik menyangkut hubungan manusia dengan Allah maupun hubungan manusia dengan sesamanya dan hubungannya dengan alam sekitar.
Melihat teladan atau idola “kesuksesan hidup” nyata dalam Islam direkomendasikan Allah secara langsung (QS al-Qalam: 4) adalah Nabi Muhammad saw yang dalam jalan hidupnya sebagai manusia paling berhasil meraih segala bidang kehidupan. Inilah bukti kesempurnaan Islam tidak hanya aturan syariat hidup tetapi juga contoh tokoh teladan yang hidup untuk diikuti yang dijelaskan detail dalam Sirah Nabi saw.
Abdurrahman Azzam dalam bukunya Muhammad Saw; The Greatest Leader, menjelaskan bahwa Rasul pembawa dan pengibar panji-panji agama ini merupakan teladan bagi siapa saja yang menghendaki kehidupan yang lebih baik pada masa sekarang, bahkan pada masa yang akan datang.
Para inspirator dunia —selain Nabi saw— dari kalangan pemimpin, cendekiawan, penakluk, pembaru, penemu, pencipta, penjelajah, dan lainnya memiliki inspirasi tertentu dalam bidang tertentu. Inspirasi yang sifatnya terbatas, sementara, dan duniawi. Adapun inspirasi Nabi adalah dari Allah yang mencakup segala lini kehidupan dan segala lingkup keduniaan. Inspirasi yang sesuai dengan semua manusia, apa pun spesialisasi mereka, mauhibah mereka, dan aktivitas mereka. Hal itu sesuai dengan firman Allah;”Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam,” (QS. al-Anbiyâ` [21]: 107).
Setiap inspirator dunia memiliki plus dan minus. Ada sisi yang layak Anda terima dan ada sisi yang layak Anda tolak. Keberhasilannya tidak lepas dari kegagalan, keunikannya tidak lepas dari komentar, dan keistimewaannya tidak lepas dari kekurangan. Sebagai pengecualian adalah Nabi saw yang serba sempurna, serba suci, dan serba baik. Sebab, beliau adalah maksum yang senantiasa dijaga oleh Tuhannya. Demikian keterangan Aidh Al-Qarni dalam bukunya Mulhim Al-‘Alam—Muhammad Sang Inspirator Dunia.
Nabi Muhammad saw Teladan Kesuksesan
Aidh al-Qarni penulis buku terkenal Laa Tahzan, menjelaskan detail bahwa Nabi saw punya “tekad” terlahir bersamaan dengan kelahiran beliau. Sejak kecil, jiwanya selalu mengejar kesuksesan dan cita-cita tertinggi serta akhlak terpuji. Beliau tidak ridha dengan hal-hal yang remeh temeh. Beliau selalu bersemangat dan terdepan mengejar cita-cita.
Sebelum menjadi nabi, beliau terkenal dengan keistimewaan, keunggulan, dan kesuksesannya. Oleh karena itu, kaum Quraisy menyebutnya dengan nama ash-Shadiq al-Amin (orang jujur dan tepercaya).
Mereka rela menerima keputusan yang beliau putuskan. Mereka meminta pendapat beliau mengenai berbagai macam permasalahan mereka. Ketika Allah telah mengangkatnya sebagai nabi, jiwa beliau bertekad untuk mencapai wasilah, yaitu derajat tertinggi di surga. Beliau memohon kepada Allah agar bisa mencapainya. Beliau juga mengajari kita untuk memintanya kepada Allah. Akhirnya beliau bisa mencapai Sidratul Muntaha, serta meraih kesempurnaan dan keutamaan manusia tertinggi.
Dari hal di atas Aidh al-Qarni merumuskan tentang rukun kesuksesan itu ada empat: pertama, Allah ridha kepada Anda; kedua, Anda menikmati pekerjaan yang Anda kerjakan; ketiga, Anda harus memberikan manfaat kepada manusia dan pengaruh baik yang masih terasa sepeninggal Anda; keempat, orang-orang di sekitar Anda ridha kepada Anda, ini menunjukkan bahwa Anda memiliki hubungan yang baik dengan rekan dan sahabat Anda.
Lebih lanjut beliau menjelaskan contoh yang paling nyata adalah Nabi sukses dalam urusan harta. Penghasilan beliau dari sumber halal. Pengeluaran beliau ke tempat yang halal. Pembagian nafkah beliau adil, didasari rasa khauf kepada Sang Pemilik Keagungan, serta dilakukan dengan penuh kecermatan dan kebijaksanaan. Disini juga menjadi poin penting bahwa kesuksesan Nabi saw sangat elegan, meraih kesuksesan dengan integritas dan profesionalitas.
Sejarah juga mencatat Beliau saw sejak kecil tidak hanya bekerja keras meskipun seorang yatim tidak pernah mengeluh dan berpangku tanga. Bahkan menurut keterangan Majid Ali Khan dalam Muhammad The Final Messenger ketika Nabi Muhammad berumur 12 tahun —menurut Ibnu Atsir dan Jarirath-Thabari 9 tahun—, Abu Thalibdan keponakannya beliau saw pergi berdagang keluar negeri sampai ke Syria. Karena perjalanan ini memakan waktu berbulan-bulan di samping kerasnya perjalanan. Kerasnya perjaanan ini sebagai bukti bahwa kesuksesan harus ditempus dengan cara kerja keras.
Lalu saat usia dewasa nabi Muhammad terus menggeluti dunia bisnis ini. Beliau berniaga ke Syria membawa dagangan Khadijah. Dalam perjalanan ini Nabi dapat mengeruk keuntungan jauh melebihi dugaan Khadijah. Budak atau pembantu laki Khadijah, Maisarah, menyertai perjalanan ini. Sampai di rumah, Maisarah memuji-muji kejujuran pemuda Mekah ini, dan Khadijah benar-benar terpesona dengan keadilan serta kejujuran beliau. Bukankah dari sirah Nabi ini kita mendapatkan pelajaran untuk sukses berbisnis. Bahkan Nabi mencontohkan secara langsung sebagai seorang Mudharib (Manager Investasi, pengelola modal, tidak hanya sekedar Distributor) karena bekerjasama dengan Khadijah sebagai Shahibul Mal (pemilik modal/Investor). Dalam muamalah atau ekonomi Islam cara berbisnis seperti ini disebut sistem Mudharabah.
Dijelaskan dalam buku Muhammad Saw; The Greatest Leader , ternyata beliau saw tidak hanya berniaga ke Syiria saja tetapi di saat usia 17 tahun juga sudah berniaga ke Yaman. Ini menunjukkan kesesuaian inspirasi Al-Quran dalam surah Quraisy, bahwa Nabi saw yang juga orang keturunan suku Quraisy, sebagai suku yang mata pencarian berniaga adalah andalannya, saat musim panas berniaga ke Suriah dan musim dingin ke Yaman. Bahkan Abdullah Yusuf Ali dalam The Holy Quran -nya menyebut “kemakmuran Makkah bergantung pada usaha perniagaan” tersebut.
Dari catatan sirah ini, sekaligus bukti semangat Quran mengajarkan umat Islam untuk bisnis global. Rihlah Qurasy bukan sekedar rihlah bisnis lokal, tetapi bisnis internasional. Pesan kuat Quran menyebut kesejahteraan masyarakat tidak lepas dari perniagaan, dari berbisnis sebagai usaha paling efektif dan maksimal dalam meraih kesuksesan dengan nilai keteladanan “ala usaha Nabi saw”, mengikuti petunjuk wahyu, muamalah, dan syariat Islam. []
