• Emailtemu@pjk-umsu.ac.id
  • AddressJl. Ampera Raya Gedung G Lt. 1 Medan - Kampus Utama UMSU
  • Open Hours9.00 - 16.00
  • Emailtemu@pjk-umsu.ac.id
  • AddressJl. Ampera Raya Gedung G Lt. 1 Medan - Kampus Utama UMSU
  • Open Hours9.00 - 16.00

Afid Dariadi, Perkebunan Bukan Cuma Ladang Sawit, Tapi Juga Ladang Karir Cemerlang

Medan – Ketika kebanyakan fresh graduate berlomba mencari pekerjaan di perkotaan dengan iming-iming gaji besar dan fasilitas mewah, Mhd Afid Dariadi, SP justru memilih jalan berbeda. Lulusan Agronomi Fakultas Pertanian UMSU ini memantapkan langkahnya di industri perkebunan sejak 2004. Keputusan yang pada waktu itu mungkin terlihat biasa saja, kini membuahkan hasil luar biasa. Afid yang memiliki akun Instagram @muhammad_afid_dariadi kini menjabat sebagai Kepala Perwakilan Sumatera di PT Pasifik Agro Sentosa.

Cerita Afid dengan dunia pertanian sebenarnya bukan dimulai saat dia lulus. Jauh sebelum itu, ketika masih menjadi mahasiswa, dia sudah aktif berkutat dengan tanah, tanaman, dan laboratorium. Sebagai asisten laboratorium, Afid mengampu beberapa mata kuliah penting seperti Biologi, Fisiologi Tumbuhan, Ilmu Tanah, dan Genetika.

Pengalaman ini bukan sekadar mengisi waktu atau menambah uang saku. Bagi Afid, masa-masa itu adalah fase pembentukan. “UMSU punya peran sangat besar dalam membentuk mental, jati diri, dan karakter saya,” kenangnya. Kampus bukan hanya tempat belajar teori, tapi juga tempat dia menemukan passion dan arah hidupnya.

Saat teman-temannya masih bingung mau kerja di mana setelah lulus, Afid sudah punya visi yang jelas. Perkebunan. Bukan karena tidak ada pilihan lain, tapi karena dia melihat sesuatu yang orang lain belum lihat. “Perkebunan adalah peluang karir terpanjang dan terluas saat ini di Indonesia,” ujarnya dengan yakin.

Dan dia tidak salah. Dua puluh satu tahun kemudian, pilihannya terbukti tepat.

Posisi Kepala Perwakilan Sumatera bukan posisi sembarangan. Di pundak Afid, ada tanggung jawab besar yang tidak bisa disepelekan. Setiap hari, dia harus memastikan legalitas dan perizinan perusahaan berjalan sesuai regulasi yang terus berubah. Dia harus mengawasi implementasi Standar Operasional Prosedur agar tidak ada celah yang bisa merugikan perusahaan. Dan yang paling strategis, dia bertanggung jawab mengembangkan bisnis—baik dari sisi produk turunan maupun perluasan areal.

“Saya harus memastikan semuanya berjalan pada koridornya,” jelasnya. Kedengarannya sederhana, tapi dalam praktiknya, ini adalah pekerjaan yang menuntut ketelitian, kebijaksanaan, dan kemampuan manajemen tingkat tinggi.

Tantangan terbesarnya? Bukan kompetitor. Bukan juga perubahan pasar atau kebijakan pemerintah. Melainkan sesuatu yang jauh lebih personal. “Diri sendiri,” jawabnya singkat ketika ditanya tentang hambatan terbesar yang pernah dia hadapi.

Pernyataan ini mungkin terdengar sederhana, tapi sebenarnya sangat dalam. Di posisi puncak seperti yang dia tempati sekarang, tekanan datang dari segala arah. Ada target yang harus dicapai, keputusan besar yang harus diambil, dan ekspektasi yang harus dipenuhi. Tantangan terbesar justru datang dari dalam diri sendiri—bagaimana tetap fokus, termotivasi, dan konsisten di tengah semua itu.

Tapi Afid tahu cara mengatasinya. Baginya, pencapaian terbesar bukan soal seberapa tinggi posisinya atau seberapa besar gajinya. Yang paling membanggakan adalah ketika semua pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya selesai sesuai rencana, dan dia masih punya energi untuk membantu timnya menyelesaikan pekerjaan mereka juga. “Itu momen yang paling berkesan,” katanya dengan senyum.

Afid tidak pelit berbagi rahasia. Menurut pengalamannya, ada tiga skill utama yang wajib dikuasai siapa pun yang ingin sukses di industri perkebunan: manajemen SDM, ilmu pemetaan, dan komputerisasi.

“Zaman sekarang serba digital. Kalau tidak bisa komputerisasi, bakal tertinggal,” tegasnya. Tapi skill teknis saja tidak cukup. Yang paling penting adalah kemampuan mengelola orang. “Management People itu kuncinya. Kamu bisa punya ilmu secanggih apa pun, tapi kalau tidak bisa bekerja dengan orang lain, percuma.”

Untuk terus berkembang, Afid tidak pernah berhenti belajar. Dia aktif mengikuti perkembangan industri melalui media online dan rutin berdiskusi dengan rekan-rekan seprofesi. Menurutnya, belajar bukan hanya soal mengikuti training atau kursus formal, tapi juga soal membuka diri terhadap perspektif baru dan pengalaman orang lain.

Kalau ada satu pesan yang ingin Afid sampaikan kepada adik-adik mahasiswa dan fresh graduate, ini dia: “Bekali diri dengan akhlak, ilmu, dan adab. Perbanyak pengetahuan tentang dunia kerja yang akan kamu tuju.”

Kedengarannya klise? Mungkin. Tapi Afid bicara dari pengalaman 21 tahun di lapangan. Dia sudah melihat terlalu banyak orang pintar yang gagal karena tidak punya etika kerja yang baik. Sebaliknya, dia juga melihat orang-orang dengan kemampuan biasa saja tapi berhasil karena punya sikap yang benar.

Untuk fresh graduate yang baru lulus dan masih bingung mau mulai dari mana, nasihat Afid lebih blak-blakan: “Bekerjalah semaksimal dan seloyal mungkin. Hasil tidak akan membohongi kerja kerasmu.”

Dia juga mengingatkan untuk tidak lari dari masalah. “Jangan pernah lari dari masalahmu, karena masalah itu juga akan menemuimu ke mana pun kamu pergi.” Yang perlu dilakukan adalah menghadapi, menyelesaikan, dan belajar dari situ.

Dan yang paling penting, jangan terlalu lama berpikir sampai lupa bertindak. “Jangan terlalu lama memikirkan. Jalani, kerjakan, dan tuntaskan. Jangan balik ke belakang sebelum melangkah ke depan, karena kamu tidak akan tahu gagal atau tidak jika belum pernah mencoba.”

Setelah 21 tahun berkarir dan mencapai posisi yang banyak orang impikan, Afid punya definisi sukses yang sangat sederhana namun bermakna dalam: “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk manusia lainnya.”

Baginya, kesuksesan sejati bukan diukur dari seberapa tinggi jabatanmu atau seberapa banyak hartamu. Tapi seberapa besar manfaat yang bisa kamu berikan kepada orang lain. Filosofi inilah yang dia pegang sepanjang karirnya, dan yang membuatnya tetap rendah hati meski sudah berada di puncak.

Oleh : Fizna Adn